Kerinci Ku Yang Tak Menjanjikan

oleh : Admin

Mereka kaya, serupa dengan panggilan untuk yang lebih tua di sesamanya, “kayo”. Tapi mereka tak berdaya di tanah sendiri. Kerinci indah, eksotik, mistik, juga ironi.Kerinci Ku Yang Tak Menjanjikan.

Sekepal tanah dari surga. Istilah itulah paling popular untuk menggambarkan keindahan Kerinci, satu kabupaten di Provinsi Jambi. Kabupaten yang baru saja dimekarkan menjadi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

Keindahan dan kekayaan alam Kerinci memang menggoda. Sebut saja perkebunan teh Kayu Aro yang disebut-sebut sebagai perkebunan teh terluas di Asia Tenggara. Perkebunan peninggalan Belanda itu berada di kaki Gunung Kerinci dan sekarang di bawah pengelolaan PTPN VI. Gunung Kerinci berada dalam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang baru saja dijelajahi oleh Kopasus pada Ekspedisi Bukit Barisan.

Dua hal itu yang paling popular dari Kerinci. Tapi jangan pula dilupakan Danau Kerinci, air terjun Telun Berasap, sumber air panas Semurup. Atau tak elok pula mengabaikan khazanah kebudayaan di kabupaten paling Barat di Provinsi Jambi ini.

Di sini ada aksara incung, tari niti mahligai yang membuat penarinya kerasukan. Pun soal kentalnya magis di sini. Lalu, beberapa penemuan fosil di sana baru-baru ini mengindikasikan, peradaban di Kerinci telah lebih dulu ada dan termasuk yang tertua.

Selain itu, ada kekayaan alam daerah berslogan Bumi Sakti Alam Kerinci ini yang belum banyak diketahui. Tapi, sudah jadi incaran bahkan oleh asing sejak beberapa puluh tahun silam. Emas. Sekarang, kilauan emas itu belum terksplorasi dan tereksploitasi.

Berada sebagai kabupaten terjauh dari ibukota provinsinya, jumlah penduduk Kerinci justru terbanyak kedua setelah Kota Jambi, ibukota Provinsi Jambi. Jumlah mencapai 237 ribu jiwa, sementara Kota Jambi sekitar 500 ribu jiwa.

Tingginya angka jumlah penduduk itu tak sebanding dengan luas wilayahnya. Menurut Pemkab Kerinci, wilayahnya dengan luas 380.850 hektare menempati urutan ketiga tersempit di antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Jambi.


Dus, dari ratusan ribu hektare itu sekitar 50 persennya termasuk dalam areal Taman Nasional Kerinci Seblat. Artinya, di sana “haram” untuk digarap. Jadilah Kerinci semakin sempit. Ketika Idul Fitri tiba, uhang Kincai dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dunia pulang ke kampung halamannya. Dan jangan heran, Kerinci yang kecil itu menjadi macet.


Seperti yang diberitakan Kompas hari ini (26/5), sembilan kabupaten di Provinsi Jambi, Bengkulu, Sumbar, dan Sumsel mengusulkan pembangunan 32 ruas jalan menembus TNKS. TNKS memang berada di tiga provinsi di atas kecuali, Sumsel.


Masyarakat Kerinci dalam kaitannya dengan keberadaan TNKS berada di posisi sulit. Dunia meminta agar paru-paru dunia itu dijaga, pohonnya tak ditebangi. Itu sekaligus untuk menjaga ekosistem dan konservasi harimau Sumatera yang berdiam di sana.


Tapi, apa daya. Luasan Kerinci tak sebangun dengan pertambahan jumlah penduduk. Desakan ekonomi kadang memaksa warga setempat menggarap lahan. Seorang teman yang asli Kerinci mengatakan, mereka seolah-olah jadi tumbal dan berkorban untuk kelestarian dunia. Sementara mereka harus bertahan hidup dengan keterbatasan. “Dimana pemerintah?”.


Mengenai kerusakan TNKS dan alam Kerinci ini, mantan menteri Lingkungan Hidup Emil Salim ketika berkunjung ke Jambi sempat menyampaikan pandangannya. Bahwa, alam Kerinci telah rusak dan memberi ancaman bencana, tidak saja bagi daerah dengan gugusan Bukit Barisan itu.


Kini, sedang jadi perbincangan rencana pembukaan TNKS untuk jalur evakuasi bencana. Masyarakat terbagi dalam dua pendapat utama, yang setuju dan yang menolak.


Rumah-rumah penduduk di Kerinci didominasi rumah panggung. Ini sebagai siasat atas terbatasnya lahan di sini. Tuntutan ekonomi dan hidup, membuat banyak warga di daerah yang terkenal dingin ini hijrah, merantau,mengadu nasib.


Kompas melansir, tak kurang 1 juta jiwa penduduk Malaysia adalah orang Kerinci. Mereka beranak pinak sebagai pendatang resmi dan haram sejak abad 19. Jangan heran bila di sana ada kawasan bernama Kampung Kerinchi. Itulah mengapa bulan lalu muncul kontroversi ketika Pemkab Kerinci ngotot membawa (replika) peninggalan sejarah Kerinci ke Malaysia untuk dipamerkan di sana.


Saya  kutipkan apa yang dimuat Kompas di halaman 23 hari ini (26/5). Adalah Mukhtar (32) warga Kerinci yang telah lebih 10 tahun menetap di Selangor. Ia menilai kampung halamannya itu memang indah. Tapi, tanpa memiliki lahan garapan dia sulit mengembangankan penghidupan.


“Apa yang mau kami garap. Tanah tidak punya. Lowongan kerja juga sulit, Mau jadi PNS pun sulit karena penuh permainan oknum pejabat daerah,” ujarnya.


Pengakuan yang serupa, juga pernah disampaikan seorang teman asal Kerinci kepada saya. Maka, jangan heran Kerinci memang tak menjanjikan.


Hal tak mengenakan lagi dari Kerinci adalah akses jalan yang rusak. Kabupaten yang berjarak sekitar 418 km dari Kota Jambi ini tak didukung infrastruktur yang memadai. Jalan rusak ditambah ancaman longsoran tanah dari bukit  di sisi jalan.
*
Kini, selain membelah TNKS, Bukaka kepunyaan Jusuf Kalla tengah memulai proyek pembangunan PLTA dengan dana Rp 4 miliar.  Menumpang pesawat pribadi, JK dan keluarganya baru saja pulang dari Kerinci awal bulan ini.

PLTA itu berlokasi di Muara Imat, Kecamatan Batang Merangin. PLTA ini mungkin akan menjadi harapan bagi warga Kerinci yang sepengetahuan sampai sekarang masih  menikmati penyalaan listrik bergilir. JK sendiri menyebut, PLTA itu ramah terhadap lingkungan.

Saya sendiri menduga, bisa saja pembelahan TNKS dan PLTA Kerinci merupakan “grand desain” untuk membuka pintu mengeksploitasi emas yang terpendam di tanah Kincai. Bila benar, bisa jadi masyarakat Kerinci akan lebih sejahtera, atau sebaliknya seperti saudara kita di Papua. Bumi kaya emas, tapi tak  menikmati kecuali korporasi asing.

Sebagaimana seorang pengusaha bercerita kepada saya. Bahwa emas Kerinci sengaja dibiarkan, untuk kelak disedot habis-habisan.

***

Dengan segala kekurangan yang timpang dengan kekayaan alam itu, wajar saja beberapa tahun lalu muncul keinginan warga Kerinci untuk berpisah dengan Provinsi Jambi. Beruntung,hal itu tak terwujud.

Seorang teman yang asli Kerinci di akun  twitternya pernah berkicau soal status keistimewaan Kerinci. Itu disampaikannya ketika rebut-ribut soal keistimewaan DIY.

Kata dia, Kerinci istimewa karena secara geografis berada di titik yang unik. Lalu, bahasa daerahnya jauh berbeda dari bahasa daerah Jambi yang umum, Kerinci memiliki kekhasan budaya, itu di antara kicauannya. Tentu saja penetapan status istimewa bukan pertimbangan itu semnata.

Tapi jangan-jangan, warga Kerinci benar-benar telah lelah dan penat dengan keadaan di kampong halamannya. Seakan terisolir dan menjadi anak tiri. Kerinci yang (tak) menjanjikan, apa kau nanti?

*Tulisan ini saya kutip dari seorang kompasianer dengan akun Rachmawan, seorang Sarjana Pertanian yang berladang kata-kata. Artikel aslinya lihat disini.




  • Share

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

No Spam No Sara. Komentar Yang Tidak Sopan Akan di Hapus.
Terima Kasih.